Biola Tak Berdawai
              Renjani (Ria Irawan) adalah seorang mantan penari balet setelah dirinya diperkosa, hamil, dan dipaksa untuk mengaborsi kandungannya. Ia memutuskan membuang masa lalunya dan pindah ke Yogyakarta. Di perjalanan di kereta, ia duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang disuruh untuk membuang bayi cacat yang kini berada dalam gendongannya. Sesampai di Yogyakarta, ia menempati rumah Neneknya yang sangat besar. Kemudian Renjani teringat kisah perjalanannya dan mendirikan rumah asuh untuk anak-anak yang cacat bernama Ibu Sejati. Seorang wanita yang filosofis terhadap sifat manusia sekaligus pintar membaca kartu tarot, Mbak Wid (Jajang C. Noer) melamar sebagai dokter anak disana. Mbak Widpun mempunyai masa lalu sendiri, ia adalah anak dari seorang pelacur yang mudah hamil. Hanya Mbak Wid saja benih yang berhasil lahir, sementara itu, seluruh benih lain diaborsikan oleh sang ibu. Hal itu membuat Mbak Wid bertekad menjadi seorang dokter anak. Renjani kemudian menemukan Dewa (Dicky Lebrianto) seorang anak cacat yang diberikan ke rumah itu. Dewa diasuh Renjani hingga Renjani merasa bahwa Dewa adalah anaknya sendiri. Sampai umurnya yang menjelang kedelapan, Dewa belum bisa merespon karena distorsi fungsi otak dan tuna wicara yang dialaminya.
Suatu hari, Renjani menemukan Dewa membongkar perlengkapan baletnya. Renjani menggunakannya dan menari sambil menyetel musik klasik, saat itulah Dewa merespon dengan mengangkat kepalanya. Renjani berpikir Dewa bisa disembuhkan dengan terapi musik atau tarian, Renjanipun mencarikan sebuah resital musik atau tari untuk disinggahi. Mereka menonton resital musik biola. Setelah selesai, Dewa tidak mau pulang. Saat itulah seorang pemuda yang memainkan biola di resital tadi, Bhisma (Nicholas Saputra) memperkenalkan diri sambil membawa biola dan tongkat geseknya. Dewa menggenggam tongkat itu terus. Bhisma akhirnya mengantarkan Renjani dan Dewa hingga ke Ibu Sejati, Dewa diperbolehkan memegang tongkat itu hingga esok. Esoknya, Bhisma dan Renjani berbicara banyak, dari situlah Renjani tahu bahwa Bhisma juga turut perhatian dengan anak-anak yang cacat. Bhisma menjadi dekat dengan Mbak Wid dan Renjani juga. Pada malam hari, Bhisma mengajak Renjani untuk berkolaborasi dihadapan Dewa, Renjani akan menari sementara Bhisma memainkan biola. Hal itu terbukti, Dewa mengangkat kepalanya lagi. Renjani dan Bhima berpelukan dan nyaris berciuman sebelum Renjani menghentikannya.
Bhisma mengurung diri di kamarnya membuat sebuah sonata yang berjudul Biola Tak Berdawai, diciptakan untuk Dewa. Bhisma memperdengarkan lagu yang belum selesai ia buat kepada Dewa dan Renjani lewat telepon. Pertemuan Renjani dengan Bhisma keesokan harinya membuat satu janji, Bhisma harus menyelesaikan Biola Tak Berdawai itu. Lalu, Bhisma mengurung diri lagi dan berkata lewat telepon bahwa ia akan memperdengarkannya di tempat resital dimana Bisma dan Renjani bertemu. Resitalpun berlangsung, hingga selesai, Bhisma tidak melihat Renjani maupun Dewa. Iapun membuang sonata yang telah terselesaikan. Bhisma menjadi murung, lalu memutuskan untuk ke Ibu Sejati. Disana ada Mbak Wid yang menceritakan bahwa Renjani ternyata mengidap kanker rahim yang ia dapati setelah melakukan aborsi yang sembarangan. Renjani sendiri mengira bahwa itu adalah maag biasa, pada malam resital Bhisma, Dewa dan Renjani sudah rapih, tetapi Renjani tiba-tiba ambruk dan dibawa ke rumah sakit. Ia meninggal setelah seminggu dalam keadaan koma. Bhisma menangisi Renjani sambil memeluk Dewa yang terduduk disamping tempat tidur. Beberapa hari kemudian, Bhisma bersama Dewa mengunjungi makam Renjani. Bhisma kemudian mendudukkan Dewa disamping nisan, lalu Bhisma mengambil biola dan memainkan Biola Tak Berdawai, menuntaskan janjinya kepada Renjani.
Plot
          Renjani (Ria Irawan), seorang mantan penari balet dan korban perkosaan yang dibatalkan yang dihasilkan janin, dan Wid (Jajang C. Noer), seorang dokter dan putri pelacur, adalah dua perempuan yang sukarela di panti asuhan untuk anak-anak dengan beberapa cacat di Yogyakarta . Suatu hari, ketika berlatih menari, Renjani mencatat bahwa Dewa (Dicky Lebrianto), kecil delapan tahun dengan autisme dan kerusakan otak, yang menanggapi. Ini mengindikasikan bahwa terapi musik dapat mempromosikan penyembuhan. Renjani kemudian meminta Bhisma (Nicholas Saputra), seorang pemain biola yang dia bertemu secara kebetulan, untuk membantu dia, mereka kemudian jatuh cinta. Setelah Bhisma menulis lagu, "Biola Tak berdawai", untuk Dewa, dia mempersiapkan untuk resital. Renjani dan Dewa menghadiri resital, tapi Renjani pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, penyebabnya kemudian ditemukan menjadi kanker serviks. Setelah seminggu dalam keadaan koma, Renjani meninggal, di makamnya, Dewa memainkan "Biola Tak berdawai" sebagai Bhisma mendengarkan.
Produksi
         Biola Tak berdawai ini disutradarai oleh Sekar Ayu Asmara, direktur otodidak Jakarta-lahir. Itu adalah debutnya sebagai sutradara.  Asmara juga diproduksi film dan menulis lirik lagu tema.
      Ria Irawan, Nicholas Saputra dan Jajang C. Noer segera menerima tawaran untuk bermain dalam film tersebut. Namun, peran Dewa diisi oleh Dicky Lebrianto setelah pengecoran baik di Yogyakarta dan Jakarta,. Ia mencatat bahwa itu sulit sebagai orang yang bermain dia harus menjadi anak non-cacat mampu bertindak seperti dia memiliki cacat.
Addie MS, seorang musisi cum konduktor dari Twilite Orchestra dan teman lama Asmara, dipilih untuk menulis musik film tersebut. The Victorian Philharmonic Orchestra di Melbourne, Australia, asalkan musik.
Film ini ditembak di Yogyakarta dan daerah sekitarnya selama 25 hari pada tahun 2002.
Tema
         Biola Tak berdawai adalah "sebuah metafora untuk bayi multi-cacat" yang melambangkan jiwa-jiwa orang-orang yang tidak pernah mengenal cinta, dan orang-orang yang hatinya telah terluka oleh itu Dia juga mencatat bahwa. film menyampaikan pesan bahwa seseorang harus siap mengorbankan sesuatu untuk cinta.

Alur : Maju

Rilis
       Biola Tak berdawai perdana pada 22 Maret 2003,dengan rilis yang lebih luas pada tanggal 4 Apri Ini mengumpulkan penghargaan Best Director Baru di Cairo International Film Festival untuk Asmara Ini kemudian menjadi pengajuan Indonesia untuk Academy ke-76. Awards untuk Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik. Namun, itu tidak diterima sebagai nominee. Film ini kemudian novelised oleh Seno Gumira Ajidarma.
          Hera Diani The Jakarta Post memberikan film dua setengah dari empat bintang, menulis bahwa karakter Noer adalah "konyol", dengan "riasan yang buruk, seni drama yang tidak perlu dan pernyataan yang absurd tentang bagaimana kehidupan dan segala sesuatu di dalamnya adalah teka-teki". Karakter Irawan digambarkan sebagai "kadang-kadang tidak meyakinkan". Mengenai film itu sendiri, dia menulis bahwa dialog itu di kali tepukan dan beberapa adegan yang tidak logis. Namun, dia memuji sinematografi dan skor, serta penggambaran Lebrianto tentang Dewa.