Janji
Panggung
Herman       : (Diam pura-pura tersinggung)
Yanti           : (Mendekat pelan-pelan)Herman aku main-main saja, lo kok marah?
Herman       : (Masih pura-pura) Tidak, Aku tidak marah. Hanya….
Yanti           : (Ingin tahu) Apa her? Katakan. Apakah aku bicara tidak sopan tadi?
Herman       : Tidak. Hanya saja kamu…..
Yanti           : (Semakin ingin tahu) Herma, katakana saja apa yang kamu maksud. Biar aku dapat memperbaiki kekuranganku. Atau, aku harus minta maaf kepadamu, her?
Herman       : Tidak. Kamu tidak usah minta maaf kepadaku. Kamu tidak bersalah, hanya….
Yanti           : (kesal dan takut) Aku semakin tidak mengerti dan bingung.
Herman       : (Semaki menggoda) Kamu tidak mengerti, yanti?
Yanti           : (Seolah akan menangis) Herman kalau kamu masih menggodaku dan aku bersalah.baiklah, aku pulang saja. Aku malu her.
Herman       : (Maksud menggoda jadi pudar) yanti, aku….hahahaaa
Yanti           : (Melihat keanehan)
Herman       : (Mendekat) Yanti sebenarnya aku mencoba kesabaranmu.
Yanti           : (Sadar kalau digoda) Aku kira…Kamu marah padaku.
Herman       : Buat apa akau marah padamu …
Yanti           : Kau darimna? Pulang sekolah?
Herman       : Tidak, dari menyelesaikan pekerjaan rumah orang.
Yanti           : Dirumah orang? Maksudmu
Herman       : Ayo coba tebak…
Yanti           : Kau menggoda lagi ya.
Herman       : Haaahaaaa,eeee, yang ni tidak, ti, aku ingin tahu kemampuanmu menerka teka-teki ini.
Yanti           : Enggak mau aku takut salah lagi her, kamu saja yang menjawab.
Herman       : (Senyum) Baiklah, begini yanti, aku sudah lama membantu ayahku mencari rejeki. Yaa .. sambil hidup mandiri kelak.
Yanti           : Yang kamu maksud itu, kamu sudah bekerja sambilan untuk membantu kebutuhan hidup keluargamu.
Herman       : Yahhh, begitulah kurang lebihnya. Hanya saja tidak tetap. Sekali waktu kalau ada kesempatan, seperti kalau tidak ada ulangan atau tidak ada PR.
Yanti           : Kalau begitu, kau sibuk sekali, her..
Herman       : Bukan hanya sibuk, malah aku sering mbolos..
Yanti           : Mbolos? Apa tidak di marahi oleh Pak Guru?
Herman       : Semua ini karna terpaksa untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Siapa lagi kalau bukan aku. Ayahku menghidupi tuju orang termasuk aku.
Yanti           : Ooo, Kamu masih punya adik empat, Her. Alangkah bahagia kamu.
Herman       : Memang, kelihatannya, keluargaku bahagia.
Yanti           : Kalau sering mbolos, apa tidak terganggu  belajarmu?
Herman       : Sering tapi tidak mengganggu belarku, soalnya aku bias membagi waktu…
Yanti           : ohh… ya udah sampai jumpa herman, aku pulang dulu…
Herman       : Hati-hati yan di jalan…