PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat
untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh dari
itu bahasa merupakan alat untuk berinterkasi atau alat untuk berkomunikasi,
dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.
Saat dilahirkan ke dunia ini, manusia mulai belajar
berbahasa. Sedikit demi sedikit, bahasa yang dipelajarinya sejak kecil semakin
dikuasainya sehingga bahasa yang dipelajarinya sejak kecil itu dapat dikatakan
sebgai bahasa pertamanya atau bahasa ibu.
Dengan bahasa yang dikuasainya itulah, ia berinterkasi dengan masyarakat
di sekitarnya.
Beranjak remaja, ia menjadi bilingualis, yaitu
menguasai dua atau lebih bahasa, semua itu diperoleh ketika berinteraksi dengan
masyarakat atau ketika di bangku sekolah. Terlebih lagi ketika sudah dewasa
dituntut untuk mampu menghasilkan uang sendiri. Ketika prospek social ekonomi
di tempatnya tidak menjamin, ia akan mencari dan mendatangi tempat lain yang
dapat menjamin kehidupannya menjadi lebih baik. Di tempat tersebut dihadapkan
pada bahasa yang berbeda. dan dittuntut untuk menguasai bahasa tersebut agar
dapat berkomunikasi dengan masyarakat di tempat tersebut. Di saat-saat seperti
inilah terjadi proses pergeseran bahasa, yaitu menggunakan sebuah bahasa lain
di antara bahasa-bahasa yang ia kuasai sejak kecil.
Berdasarkan
uraian di atas, dikorelasikan dengan masalah penelitian yang akan diteliti
yaitu mengenai perubahan, pergeseran, dan pemertahanan bahasa yang
terjadi pada seorang pendatang atau sekelompok pendatang pada lingkungan
masyarakat barunya.
|
B. Rumusan Masalah
Penelitian
Berdasarkan
latar belakang masalah penelitian di atas, penulis membuat beberapa pertanyaan
masalah penelitian berikut ini
1.
Apakah ada
peristiwa perubahan bahasa di masyarakat?
2.
Apakah ada
peristiwa pergeseran bahasa di masyarakat?
3.
Apakah ada pemertahanan
bahasa di masyarakat?
C.
Tujuan
dan Manfaat Penelitian
1.
Tujuan
Penelitian
Penelitian
ini bertujuan memperoleh deskripsi dan pemahaman mengenai hal-hal berikut.
a.
Untuk mengetahui perubahan bahasa di
masyarakat.
b.
Untuk mengetahui pergeseran bahasa di masyarakat.
c.
Untuk mengetahui pemertahanan bahasa di
masyarakat.
2.
Manfaat
Penelitian
Manfaat
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah dapat memperoleh pengetahuan dan
pemahaman tentang kajian sosiolinguistik dalam menganalisis pergeseran bahasa dalam berkomunikasi sebagai akibat dari perpindahan dari satu tempat ke
tempat lain yang memiliki bahasa yang berbeda.
Manfaat lainnya adalah sebagai sumbangan dalam memperkaya pengetahuan tentang bahasa
yang digunakan oleh masyarakat sunda.
LANDASAN TEORETIS
A.
Perubahan
bahasa
Saussure
(1959) dan Bloomfield (1933) menyatakan bahwa perubahan bahasa tidak dapat
diamati, yang mungkin diharapkan dapat diamati adalah konsekuensi perubahan itu
sendiri. Akibat yang terutama dari perubahan bahasa tersebut adalah adanya
perbedaan terhadap struktur bahasa tersebut. Perubahan bahasa lazim
diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya itu direvisi,
kaidahnya menghilang, atau munculnya kaidah baru, dan semuanya itu dapat terjadi pada semua
tataran linguistik: fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon.
1.
Perubahan
fonologi
Perubahan
bunyi dalam bahasa Indonesia pun dapat kita lihat. Sebelum berlakunya EYD, fonem /f/, /x/, dan /s/ belum
di masukkan dalam khazanah fonem bahasa Indonesia, tetapi kini ketiga fonem itu
telah menjadi bagian dalam khazanah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia lama
hanya mengenal empat pola silabel, yaitu V, VK, KV, dan KVK, tetapi kini pola silabel semakin banyak.
2.
Perubahan
morfologi
Perubahan
bahasa dapat juga terjadi dalam bidang morfologi. Dalam bahasa Indonesia ada proses
penasalan dalam proses pembentukan kata dengan prefix me- dan pe-.
Kaidah ini menjadi agak susah diterapkan
setelah bahasa Indonesia menyerap kata-kata yang bersuku satu
dari bahasa asing, seperti kata sah,
tik, dan bom. Karena jika kata asing diberi prefix sesuai kaidah akan
rancu..
3.
Perubahan
sintaksis
Perubahan
kaidah sintaksis dalam bahasa Indonesia sudah dapat kita saksikan. Umpamanya,
menurut kaidah sintaksis yang berlaku sebuah kalimat aktif transitif harus
selalu mempunyai objek, atau dengan rumusan lain, setiap kata kerja aktif
transitif harus selalu diikuti oleh objek. Tetapi dewasa ini kalimat aktif
transitif banyak yang tidak dilengkapi objek.
4.
Perubahan
kosakata
Perubahan
bahasa yang paling mudah terlihat adalah
pada bidang kosakata. Bahasa Inggris yang diperkirakan memiliki lebih dari 600.000 kosakata. Sedangkan bahasa
Indonesia yang kabarnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiiki
sekitar 65.000 kosakata.
Proses
penyerapan atau peminjaman ada yang dilakukan secara langsung dari bahasa
sumbernya, tetapi ada juga yang melalui bahasa lain. Kata kasus dalam bahasa Indonesia adalah pinjaman langsung dari bahasa
Latin. Dalam bahasa Indonesia
banyak juga kita jumpai kata yang berbentuk akronim ini, seperti ABRI, hankam, tilang, pelita, tabanas, dan menwa.
Selain itu gabungan dua kata atau
lebih banyak pula digunakan untuk
penciptaan kata-kata baru, sebagai contoh dalam bahasa Indonesia ada
bentuk-bentuk seperti matahari, matasapi,
mahasiswa. Di samping gabungan utuh seperti di atas, ada juga gabungan yang
disertai dengan penyingkatan. seperti pasaraya (dari pasar + raya) dan
sumbagsel (dari Sumatera + bagian+ selatan).
Dalam
perkembangannya sebuah bahasa bisa juga
dalam bahasa Indonesia kata-kata berikut sudah tidak
digunakan lagi, antara lain, kempa
‘stempel, cap’, centang perenang ‘tidak
rapi,’. Namun, kini dalam upaya pengembangan kosakata dan istilah banyak kosakata
lama yang sudah menghilang digunakan kembali, misalnya, mengelola dan
ragangan.
5.
Perubahan
semantik
Perubahan
semantik yang umum adalah berupa perubahan pada makna butir-butir leksikal yang
mungkin berubah total, meluas, atau juga menyempit. Perubahan bersifat total contohnya kata pena dulu bermakna ‘bulu angsa’, tetapi
kini berarti ‘alat tulis bertinta’.
Perubahan
makna yang sifatnya meluas.
Seperti kata papan pada mulanya hanya
bermakna ‘lembaran kayu tipis’, tetapi sekarang bermakna juga ‘perumahan’. Perubahan makna yang
menyempit, seperti kata
sarjana pada mulanya bermakna ‘orang
cerdik’, tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang sudah lulus dari perguruan
tinggi’.
B.
Pergeseran
bahasa
Pergeseran
bahasa menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau
sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu
masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain.
Contoh,
Sarwono, seorang pemuda dari Pekalongan merantau ke Jawa Barat. Dia bekerja sebagai
tenaga administrasi pada sebuah perkebunan teh di Subang. Setiap hari dan
sepanjang hari yang didengarnya adalah percakapan bahasa Sunda, yang pada
mulanya tidak dipahaminya sama sekali. Untuk berkomunikasi dengan teman
sekantor dia dapat menggunakan bahasa Indonesia, tetapi untuk berkomunikasi
dengan pekerja kasar di perkebunan itu dia mendapat kesulitan, sebab mereka
hanya bisa berbahasa Sunda. Dia pun mencoba belajar bahasa Sunda sedikit demi
sedikit. Lama-kelamaan akhirnya dia dapat juga berbahasa Sunda. Akhirnya Sarwono yang
sudah masuk dalam masyarakat tutur Sunda ini tidak pernah lagi menggunakan
bahasa ibunya, bahasa Jawa. Di sini pun telah terjadi pergeseran bahasa pada
diri Sarwono. Bahasa Jawanya yang sudah dipelajari sejak bayi sudah tidak
berfungsi lagi, diganti oleh bahasa Sunda.
Pergeseran
bahasa biasanya terjadi di Negara, daerah, atau wilayah yang member harapan
untuk kehidupan social ekonomi yang lebih baik, sehingga mengundang
imigran/transmigran untuk mendatanginya. Fishman (1972) telah menunjukkan
terjadinya pergeseran bahasa para imigran di Amerika. Secara sederhana
pergeseran bahasa para imigran itu dilukiskan dalam diagram berikut.
Monolingual
|
Nilingual
bawahan
(B-ib-B-in)
|
Bilingual
setara
(B-ib-B-in)
|
||
Monolingual
(B-in)
|
Bilingual
bawahan
(B-in-B-ib)
|
Pergeseran yang dilukiskan pada kasus Sarwano tidak
sampai menyebabkan punahnya bahasa ibu karena pergeseran itu berlangsung bukan
di tempat bahasa itu digunakan. Begitu
juga kasus yang dikemukakan oleh Fishman. Namun, dalam kasus-kasus lain seperti
yang dilaporkan Dani (1987) dan Ayatrohaedi (1990) ada pergeseran bahasa yang
menyebabkan punahnya suatu bahasa di tempat tadinya digunakan karena tidak ada lagi penuturnya,
atau penuturnya secara drastis sudah sangat berkurang. Dalam penelitiannya di
wilayah Minahasa Timur, Sulawesi Utara, Dani (1987) menemukan adanya bahasa
daerah yang pemakaiannya dan penuturnya sudah sangat menurun. Ayatrohaedi
(1990) melaporkan sedang berlangsung proses kepunahan sebuah bahasa di
Jatiwangi, Cirebon, Jawa Barat.
Apa
yang di paparkan para pakar di
atas, memang peristiwa pergeseran bahasa
itu bisa saja terjadi dimana–mana di muka bumi ini
mengingat dalam dunia modern sekarang arus mobilitas penduduk sangat tinggi.
Wilayah, daerah, atau Negara yang
memberi harapan kehidupan sosial ekenomi yang lebih baik diserbu dari
mana-mana, sedangkan yang prospeknya suram segera ditinggalkan.
C.
Pemertahanan
bahasa
Dari
pembicaraan diatas dapat disaksikan bahwa penggunaan BI oleh sejumlah penutur
dari suatu masyarakat yang bilingual atau multilingual cenderung menurun akibat
adanya B2 yang mempunyai fungsi yang lebih superior. Dalam kasus yang dilaporkan Danie (1987) kita
lihat menurunya pemakaian beberapa
bahasa daerah di Minahasa Timur adalah karena pengaruh penggunaan bahasa Melayu
Manado yang mempunyai prestise yang lebih tinggi dan penggunaan bahasa
Indonesia yang jangkauan pemakaiannya bersifat Nasional.
Dalam
masyarakat Loloan selain ada B1 (bahasa Melayu Loloan) dan B2 lama (bahasa
Bali), ada lagi B2 lain (yang disebut oleh
peneliti sebagai B2 baru) yaitu bahasa Indonesia. Dari kasus penggunaan bahasa Melayu Loloan, bahasa Bali,
dan bahasa Indonesia yang terjadi dalam
masyarakat Loloan dapatlah disimpulkan: pertama, penguasaan B2 milik
mayoritas oleh kelompok minoritas,
sehingga warga minoritas menjadi
bilingual, tidaklah selalu berakibat
bergeser atau punahnya B1 milik kelompok minoritas itu. Kedua, penguasaan B2
baru, (dalam hal ini bahasa Indonesia) oleh kelompok minoritas juga tidak
memunahkan B1, tetapi hanya menggeser banyak peran B2 lama (dalam hal ini
bahasa Bali, yang telah lebih dahulu dikenal) dan beberapa peran B1.
Akhirnya,
kalau ditanyakan apakah bahasa Indonesia kelak dapat menggeser atau memunahkan bahasa
Melayu Loloan dari masyarakat Loloan tidaklah dapat dijawab sekarang, sebab
proses pergeseran dan proses kepunahan itu memerlukan kurun waktu
yang cukup panjang dan melalui
beberapa generasi. Namun, yang pasti dapat disebutkan adalah bergeser atau
punahnya bahasa Melayu Loloan itu sangat di tentukan oleh keputusan,
berdasarkan sikap bahasa, dari masyarakat Loloan itu sendiri.
BAB
III
A. Metode Penelitian
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif. Dalam penelitian ini, pengumpulan data tidak dipandu oleh teori,
tetapi dipandu oleh fakta-fakta yang ditemukan pada saat penelitian di
lapangan. Kriteria data dalam penelitian kualitatif adalah data yang pasti.
Data yang pasti dalah data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya, bukan
data sekedar yang dilihat, terucap, tetapi data yang mengandung makna di
balik yang terlihat dan terucap
tersebut.
B. Lokasi
Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di daerah Masyarakat tutur
jawa Dusun. Sindangsari Kec. Mangunjaya
Kab.Pangandaran
C. Sumber Data
Sumber
data dalam penelitian ini adalah data hasil wawancara dan angket yang dikumpulkan berupa
percakapan dan hasil angket dengan
beberapa orang yakni perwakilan dari setiap daerah yang akan diteliti. Sumber
data yang akan diambil dikhususkan dari perolehan percakapan dengan beberapa
orang dari perwakilan beberapa daerah tersebut.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan teknik
wawancara terarah
dan angket. Alat yang digunakan ketika observasi
berupa :
1.
Buku catatan
2.
Ballpoint
3.
|
Telepon selular (alat perekam)
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. (2004). Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: PT.
Asdi Mahasatya.
Pateda, Mansoer.
(1987). Sosiolinguitik. Bandung:
Angkasa.
Heryadi, Dedi.
(2010). Metode Penelitian Pendidikan
Bahasa. Bandung: Pustaka
Billah.
|

Follow Us
Stay updated via social channels