BERBICARA MERUPAKAN KETERAMPILAN
BERBAHASA
BAB I
A. KETERAMPILAN BERAHASA: KOMPONEN-KOMPONENNYA
Keterampilan berbicara mempunyai empat komponen, yaitu:
1) Keterampilan menyimak (listening
skills)
2) Keterampilan berbicara (speaking
skills)
3) Keterampilan membaca (reading
skills)
4) Keterampilan menulis (writing
skills)
(Nida, 1957: 19; Harris; 1877:9)
Setiap keterampilan itu, berhubungan
erat dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka-ragam. Dalam
memeroleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan
yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa,
kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis.
Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat
keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur
tunggal.
Selanjutnya, setiap keterampilan itu
berhubungan erat pula dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa.
Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa,
semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat
diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih
keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. (Tarigan,
1980:1; Dawson, 1963:27).
B. BERBICARA SEBAGAI
SUATU KETERAMPILAN BERBAHASA
Linguistik berkata bahwa “ speaking is language”.Berbicara adalah
suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya
didahului oleh keterampilan menyimak, dan masa tersebutlah kemampuan berbicara
berujar dipelajari. Berbicara sudah barang tentu berhubungan erat dengan perkembangan
kosa kata yang diperoleh oleh anak, melalui kegiatan menyimak dan membaca.
Untuk memeroleh gambaran yang lebih jelas, berikut ini akan kita tinjau
secara lebih terperinci hubungan antara:
1.
Hubungan antara Berbicara dan Menyimak
Hal-hal yang dapat memperlihatkan
eratnya hubungan antara berbicara dan menyimak, adalah sebagai berikut:
a.
Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru
(imitasi).
b.
Kata-kata yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya
ditentukan oleh perangsang (stimulus) yang mereka temui (misalnya
kehidupan desa/kota) dan kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau
pelayanan dalam menyampaikan ide-ide atau gagasan mereka.
c.
Ujaran sang anak mencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan dalam
masyarakat tempatnya hidup.
d.
Anak yang lebih muda lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang lebih jauh
panjang dan rumit tinimbang kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya.
e.
Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas
berbicara seseorang.
f.
Bunyi atau suara merupakan faktor penting dalam meningkatkan cara
pemakaian kata-kata sang anak.
g.
Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids)akan
menghasilkan penangkap informasi yang lebih baik pada pihak penyimak.
2.
Hubungan antara Berbicara dan Memba
Hubungan-hubungan
antara bidang kegiatan lisan dan membaca tealah dapat diketahui dari beberapa
telaah penelitian, antara lain:
a. Performansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan
berbahasa lisan.
b. Pola-pola ajaran yang tuna-aksara mungkin mengganggu pelajaran membaca
bagi anak-anak.
c. Kalau pada tahun-tahun awal sekolah, ujaran membentuk suatu dasar bagi
pelajaran membaca, maka membaca bagi anak-anak kelas yang lebih tinggi turut
membantu meningkatkan bahasa lisan mereka.
d. Kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung.
3.
Hubungan antara Ekspresi Lisan dan Ekspresi Tulis
Adalah wajar bila komunikasi lisan
dan komunikasi tulis erat sekali berhubungankarena keduanya mempunyai banyak
persamaanantara lain:
a.
Sang anak belajar berbicara jauh sebelum dia dapat menulis, dan kosa kata,
pola-pola kalimat, serta organisasi ide-ide yanh memberi ciri kepada
ujarannyamerupakan dasar bagi ekspresi tilis berikutnya.
b.
Sang anak yang telah dapat menulis dengan lancar biasanya dapat pula
menuliskan pengalaman-pengalaman pertamanya secara tepat tanpa diskusi lisan
pendahuluan tetapi dia masih perlu membicarakan ide-ide yang rumit yang
diperolehnya dari tangan kedua.
c.
Perbedaan-perbedaan terdapat pula antara komunikasi lisan dan komunikasi
tulis. Ekspresi tulis cenderung ke arah kurang berstruktur, lebih ssering
berubah-ubah, tidak tetap, dan biasanya lebih kacau serta membingungkan
ketimbang komunikasi tulis.
C. RAGAM SENI BERBICARA
Secara garis besar, berbicara (speaking) dapat dibagi atas:
1.
Berbicara di muka umum pada masyarakat (Public speaking) yang
mencakup empat jenis, yaitu:
a)
Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau
melaporkan; yang bersifat informatif.
b)
Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan atau persahabatan.
c)
Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat membujuk, mengajak,
mendesak, dan meyakinkan.
d)
Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang
dan hati-hati.
2.
Berbicara pada konferensi (conference speaking)
a.
Diskusi kelompok, yang dapat dibedakan atas;
1)
Tidak resmi, dan masih dapat diperincikan lagi atas:
a)
Kelompok studi
b)
Kelompok pembuat kebijaksanaan
c)
Komik.
2)
Resmi yang mencakup pula:
a)
Konferensi
b)
Diskusi panel
c)
Simposium.
b.
Prosedur parlementer.
c.
Debat.
D. METODE PENYAMPAIAN DAN PENILAIAN BERBICARA
Maksud dan tujuan pembicaraan,
kesempatan, pendengar atau pemirsa, ataupun waktu untuk persiapan dapat
menentukan metode penyajian. Sang pembicara sendiri dapat menentukan yang
terbaik dari empat metode yang mungkin dipilih, yaitu:
Penyampaian Mendadak. Seseorang yang tidak terdaftar untuk berbicara mungkin saja dipersilakan
berbicara dengan sedikit atau tanpa peringatan. Oleh karena itu, sedikit
mungkin dia hanya mempunyai waktu untuk memilih ide pokok sebelum harus mulai
berbicara/berpidato secara mendadak.
Penyampaian tanpa persiapan. Sang pembicara yang ingin memanfaatkan keuntungan-keuntungan penyesuaian
maksimum pada kesempatan dan penyimak secara langsung, dapat mengizinkan. Akan
tetapi, hendaklah dia tidaklah bergantung pada penyampaian khusus ide-idenya.
Dia haruslah mengetahui ide utamanya dan urutan yang mantap dari ide-idenya,
tetapi hendaknya dia memilih bahasa yang tepat sebaik dia berbicara.
Penyampaian dari naskah. Penyajian dari naskah biasanya dilaksanakan pada saat-saat yang amat
penting dan kerapkali digunakan buat siaran-siaran radio atau televisi. Sang
pembicara haruslah mampu memahami makna yang dibacakan itu dan memelihara serta
mempertahankan hubungan yang erat dengan para pendengar.
Penyampaian dari ingatan. Keberhasilan berbicara yang penyampaiannya dari ingatan menuntut sang
pembicara menguasai bahan pembicaraannya selengkap mungkin sehingga, dia tidak
menghadapi masalah dalam hal bahasa dan dapat mencurahkan seluruh perhatian
pada komunikasi langsung dari pikiran dan perasannya. Akan tetapi, ingatannya
pun harus juga mengizinkan spontatitas yang serupa pada penyajian tanpa
persiapan, lebih-lebih pada hal-hal yang perlu disisipkan atau diinterpolasi
kalau memang keadaannya menghendakinya.
BAB II
BERBICARA DI MUKA UMUM
A. BERBICARA UNTUK
MELAPORKAN
Berbicara untuk melaporkan, untuk
memberikan informasi, atau dalam bahasa Inggris disebut informative speaking
dilaksanakan kalau seorang berkeinginan untuk:
1.
Memberi atau menanamkan pengetahuan
2.
Menetapkan atau menentukan hubungan-hubungan antara benda-benda
3.
Menerangkan atau menjelasakan sesuatu proses, dan
4.
Menginterpretasikan atau menafsirkan sesuatu persetujuan ataupun
menguraikan suatu tulisan.
Pembicaraan-pembicaran yang bersifat
informatif menyadarkan diri pula pada lima sumber utama, yaitu:
1.
Pengalaman-pengalaman yang harus dihubung-hubungkan seperti perjalanan,
petualangan, dan cerita roman/novel.
2.
Proses-proses yang dijelaskan, seperti pembuatan sebuah buku, mencampur
sebuah pigmen-pigmen untuk membuat warna-warna, merekam, serta memotret bunyi.
3.
Tulisan-tulisan yang harus dijelaskan/dipahami, seperti arti/ makan
konstitusi dan palsafah Plato.
4.
Ide-ide atau gagasan-gagasan yang harus disingkapkan, seperti makan
estetika.
5.
Instruksi-instruksi atau pengajaran-pengajaran yang harus digambarkan dan
diragakan, seperti: bagaimana bermain catur, dan bagaimana cara membuat kapal.
B. BERBICARA SECARA
KEKELUARGAAN
Tidak ada kegiatan manusia yang lebih
menyenangkan yang telah ditemukan selain hiburan atau petunjuk kelompok. Di
dalamnya terdapat sesuatu yang menggembirakan yang dapat dinikmati bersama,
yang dapat meninggalkan kesenangan pribadi. Pengalaman-pengalaman manusia
diperkuat serta ditingkatkan dengan jalan menceritakannya kepada orang lain.
Tidak ada wadah lain yang lebih sesuai dengan maksud-maksud seperti ini selain
dalam situasi-situasi persahabatan dan kekeluargaan. Para partisipan
menginginkan seseorang pembicara untuk melambangkan serta memperagakan dalam
suasana hati, keadaan jiwa, pikiran, dan tindakan yang menarik dan seuai dengan
perasaan-perasaan kelompok tersebut. Bagi sang pembicara, tantangan ini jelas
menentukan sikapnya, bahannya, dan penyampiannya. Ketiga hal ini hendaknya
dapat menggemakan keramah-tamahan dan mempertinggi perasaan-perasaan bersama
dari kelompok itu. Keramahtamahan hendaknya menjadi inti pokok, dan kegembiraan
yang dapat dinikmati bersama hendaknya merupakan tujuan khusus.
C. BERBICARA UNTUK
MEYAKINKAN
Aristoteles pernah mengatakan bahwa
“persuasi (bujukan, desakan, dan meyakinkan) adalah seni penanaman
alasan-alasan atau motif-motif yang menuntun ke arah tindakan bebas yang
konsekkuen.
Persuasi merupakan tujuan kalau kita
menginginkan tindakan atau aksi. Pembicaraan yang bersifat persuasif
disampaikan kepada para pendengar bila kita menginginkan penampilan suatu
tindakan atau pengajaran suatu bagian tertentu dari suatu tindakan.
Tindakan-tindakan serupa itu mungkin merupakan penerimaan suatu pendirian,
pemungutan atau pengadopsian seperangkat prinsip, atau tindakan pelaksanaan
tugas-tugas serupa itu. Tuntutan atau daya penarik dalam hal ini kebanyakan
bersifat emosional. Daya penarik ini menampilkan motif-motif kepada kita untuk
bertindak menurut cara yang dikehendaki. Apabila aksi tidak dapat diperoleh
tanpa kepastian pendirian , maka argumentasipun menyajikan bukti-bukti kepada orang-orang
intelek sebagai bahan pertimbangan. Apabila pengertian diperlukan untuk
memperoleh serta menjamin tindakan, maka eksposisi dan diskripsi pun menyajikan
konsep-konsep yang jelas mengenai makna-makna yang terlibat. Akan tetapi, harus
disadari benar-benar bahwa proses-proses tersebut hanyalah merupakan batu
loncatan saja kepada tujuan nyata dari tindakan yang diharapkan itu. “Untuk
memperoleh aksi, maka kemauan orang atau pribadi haruslah ditimbulkan untuk
memahami serta membayangkan aksi tersebut seperti yang diinginkan.
BAB III
DISKUSI KELOMPOK
A. PENGERTIAN DAN
TUJUAN
John Stuart Mill pernah mengatakan bahwa “satu-satunya cara, atau tempat
dimana manusia dapat mengemukakan beberapa pendekatan, untuk mengetahui
keseluruhan suatu pokok pembicaraan adalah dengan jalan mengetahui segala hal
yang dikatakan oleh orang-orang yang mempunyai pendapat-pendapat yang
berbeda.”(Powers;1951:263).
Pada hakikatnya diskusi merupakan suatu metode untuk memecahkan
permasalahan dengan proses berpikir kelompok. Oleh karena itu, diskusi
merupakan suatu kegiatan kerjasama atau aktivitas koordinatif yang mengandung
langkah-langkah dasar tertentu yang harus dipatuhi oleh seluruh kelompok.
Diskusi kelompok berlangsung apabila orang-orang yang berminat dalam suatu
masalah khusus berkumpul mendiskusikannya dengan harapan agar sampai pada suatu
penyelesaian atau penjelasan. Perlu disadari bahwa, sebuah diskusi yang
efektif, istilah kelompok atau grup haruslah mengandung makana
tidak sekedar kumpulan pribadi-pribadi saja. Suatu kelompok adalah suatu
keseluruhan yang dinamis dengan sifat-sifat yang berbeda dari sifat-sifat dari
anggotanya.
Diskusi kelompok berbeda dengan public speaking (berbicara di muka
umum) dimana tiap orang menjelaskan ide-ide mereka kepada kelompok-kelompok,
dan juga berbeda dengan berdebat (debating) dimana para pembicara
mempertahankan pro dan kontra tetapi justru tidak dengan
mengarahkan pemikiran kelompok pada permasalahan merupakan suatu alat yang
ampuh apabila hasil dari pemikiran kelompok benar-benar diinginkan.
B. KELOMPOK TIDAK
RESMI
Dalam diskusi, kelompok yang tidak resmi (informal
groupsdiscussion) ini termasuk:
1.
Kelompok Studi
Kelompok studi ini mungkin merupakan
suatu hasil pertumbuhan dari suatu keinginan untuk memperoleh informasi. Di
dalam kelas misalnya, suatu kelompok studi dapat membicarakan masalah mengenai
sumbangan-sumbangan yang dapat diberikan oleh seseorang dramawan yang khusus
(Mulgrave, 1954:38).
Istilah study group sering
juga disebut lecturediscussion (diskusi kuliah) yang merupakan bentuk
diskusi yang paling sering terjadi pada mahasiswa perguruan tinggi. Ini
merupakan sustu penampilan khusus oleh seseorang yang mempunyai kapasitas, yang
didikuti dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar dari para anggota
pendengar. Bentuk diskusi yang serupa ini merupakan bentuk yang paling sering
dipergunakan di kota-kota. Ini merupakan yang paling cocok dan serasi bagi
situasi-situasi di mana para pendengar menginginkan pengetahuan mengenai suatu
pokomk tertentu. (Powers, 1954:38)
2.
Kelompok Pembentuk Kebijaksanaan
Suatu kelompok pembentuk kebijaksanaan pada sebuah fakultas di perguruan
tinggi dapat menentukan apakah karya-karya seseorang pengarang yang sedang
dipermasalahkan dapat dimasukkan ke dalam kurikulum, dan kalau ternyata dapat
di mana sebaiknya yang paling tepat ditempatkan (Mulgrave, 1954:38). Untuk
menentukan suatu kebijaksanaan dalam hal ini, pendapat para anggota yang biasanya
merupakan orang-orang yang ahli ditampung dan disinkronisasikan.
3.
Komite
Bagaian yang tersebar dari pekerjaan yang aktual kebanyakan organisasi
dilaksanakan oleh komite-komite. Hal ini dikarenakan, lebih mudah bagi
kelompok-kelompok kecil bekerja sama ketimbang bagi kelompok-kelompok besar.
Oleh sebab itu, suatu komite memiliki keuntungan-keuntungan yang
memungkinkannya bekerja lebih efesien daripada suatu organisasi orang tua.
Suatu komite dapat memamfaatkan waktu yang lebih banyak dalam
penelitian/pengusutan dan diskusi daripada suatu organisasi yang besar. Komite
dapat menelaah hal-hal yang mengganggu atau pokok-pokok yang sedang
diperdebatkan (kontrovesional) tanpa publisitas yang kadang-kadang
mengikuti kelompok-kelompok yang lebih besar. Komite juga dapat mengizinkan
prosedur yang lebih informal ketimbang yang dimungkinkan pada kelompok-kelompok
besar.
C. KELOMPOK RESMI
Yang termasuk dalam kelompok diskusi
yang resmi (formal groups discussion) ini, termasuk:
1. Konferensi
Konferensi sebagi suatu bentuk kelompok diskusi resmi
kadang-kadang mengacu kepada action-taking discussion atau diskusi
pengambilan tindakan, karena berusaha membuat suatu keputusan dan bertindak
berdasar keputusan tersebut. Konferensi-konferensi perusahaan biasanya termasuk
ke dalam tipe ini. Suatu masalah muncul yang menuntut tindakan, dan konferensipun
diadakanlah untuk menentukan cara yang paling tepat untuk diikuti. Dalam bentuk
diskusi ini waktu lebih banyak dipergunakan dalam tahap penentuan kemungkinan
cara penyelesaian yang paling baik, dan sering kali suatu pemungutan suarapun
diadakan untuk menentukan cara penyelesaian yang paling efektif yang telah
dikemukakan selama diskusi berlangsung (Powers, 1951:265).
2. Diskusi Panel
Diskusi panel adalah suatu kelompok yang terdiri dari tiga
sampai enam orang ahli yang ditunjuk untuk mengemukakan pandangannya dari
berbagai segi mengenai suatu masalah.
Terdapat
dua perbedaan penting antara panel discussion (atau diskusi panel)
dan informal discussion (atau diskusi informal), yaitu:
a.
Tujuan utama diskusi panel adalah untuk menyampaikan informasi atau
pendapat-pendapat, tidak perlu menentukan cara berjalan suatu tindakan.
b.
Para anggota suatu panel membuat persiapan-persiapan terlebih dahulu.
Mereka telah menelaah pokok pembicaraan sepenuhnya dan memang telah menjadi
ahli dalam bidang itu.
3. Simposium
Bentuk diskusi kelompok resmi yang
disebut dengan istilah simposium ini sungguh sangat bermamfaat apabila pokok
pembicaraan yang sedang didiskusikan itu tidak dapat dijawab dengan suatu
keputusan yang berbentuk “ya” atau “tidak” tetapi yang dapat diselesikan dengan
beberapa alternatif. (Powers, 1951: 266).
Secara etimologis, kata simposium
berasal dari bahasa yunani symposion (yang tersusun dari sym
“dengan” dan posis” minum”) yang bermakan “suatu pesta minum”. Dalam
masyarakat yunani kuno minum bersama atau pesta minum biasanya diikuti oleh
musik, nyanyian, dan percakapan. Oleh kareana itu, merupakan suatu pertemuan
sosial yang berfungsi sebagai wadah pertukaran ide-ide secara bebas. Dalam
perkembangan selanjutnya, simposium bermakna sebagai “suatu konferensi
tempat mendiskusikan suatu pokok-pokok pebicaraan tertentu dan menampung
pendapat. Juga dapat berarti suatu koleksi pendapat mengenai suatu subyek”.
(Webster’s New Collegiate Dictionery, 1959 :861).
D. TUGAS KETUA DAN
TUGAS PARTISIPAN
1. Tugas Ketua
Keberhasilan seorang ketua memimpin suatu diskusi kelompok
akan bergantung sepenuhnya kepada kemampuannya memahami serta menjalankan
tugasnya. Tugas-tugas itu adalah sebagai berikut:
a.
Membuat persiapan yang matang untuk diskusi.
b.
Mengumumkan judul atau masalah mengemukakan tujuan diskusi.
c.
Menyediakan srta menyiapkan waktu bagi (a) pendahuluan, (b) diskusi, dan
(c) rangkuman singkat yang isinya tentang kesimpulan yang dicapai.
d.
Menjaga keteraturan suasana diskusi.
e.
Memberi kesempatan kepada setiap orang yang ingin mengemukakan pikiran.
f.
Menjaga agar minat peserta tetap besar.
g.
Menjaga agar diskusi tetap bergerak maju.
h.
Membuat catatan-catatan singkat pada akhir diskusi.
2. Tugas Partisipan
Nilai suatu diskusi yang kita ikuti sebagian besar
bergantung kepada baik atau tidaknya kita sebagai partisipan atau peserta
mengetahui serta menjalankan tugas-tugas kita. Dengan mengikuti
petunjuk-petunjuk di bawah ini, kita bukan hanya sekedar memberi sumbangan atas
keberhasilan diskusi, tetapi juga akan mendapatkan respek para partisipan
lainnya.
a. Turut mengambil
bagian dalam diskusi.
b.
Berbicaralah jika ketua mempersilahkan kita.
c.
Berbicaralah dengan tepat dan tegas.
d.
Kita harus dapat menunjang pernyataan-pernyataan kita dengan fakta-fakta,
contoh-contoh, atau pendapat-pendapat para ahli.
e.
Ikutilah dengan seksama dan dengan penuh perhatian diskusi yang sedang
berlangsung.
f.
Dengarkanlah dengan penuh perhatian.
g.
Bertindaklah dengan sopan santun dan bijaksana.
h. Cobalah memahami
pandangan orang lain.
BAB IV
PROSEDUR PARLEMENTER
A. PENGERTIAN DAN
TUJUAN
Suatu fakta yang perlu kita sadari
pada masa kemajuan ini adalah bahwa perkenalan dengan prinsip-perinsip dasar
prosedur parlementer (parliamentary procedure) merupakan salah satu ciri
warga negara yang dewasa yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, para siswa
dan mahasiswa yang merupakan generasi penerus dalam negara kita hendaknya sudah
terbiasa (dan tidak kaku) dengan prosedur parlementer.
Pelestarian demokrasi akan tercapai
karena pengawatan teknik-teknik pencapaian keputusan dengan cara demokratis.
Kebiasaan berpikir secara demokratis dapat dikembangkan dengan latihan
berbicarabebas dan teratur dalam perkumpulan atau pertemuan. A empat aturan
dasar yang harus dipahami dan dijalankan dengan tekun untuk maksud tersebut,
yaitu:
1.
Hak golongan minoritas haruslah dilindungi
2.
Hukum yang telah betul-betul dipertimbangkan bagi golongan mayoritas
haruslah berlaku
3.
Kehormatan martabat semua anggota haruslah terjamin
4.
Suatu susunan tugas atau aturan yang logis haruslah ditetapkan dengan
baik. (Powers, 1951 : 280).
Anggaran dasar atau asumsi-asumsi pokok yang mendasari prosedur
parlementer, adalah sebagai berikut:
1.
Prosedur parlementer lebih cenderung membantu ketimbang menghalangi
keseimbangan atau kerukunan transaksi usaha.
2.
Kaidah-kaidah mayoritas.
3.
Semua anggota perkumpulan mempunyai hak-hak yang sama, tetapi juga
mempunyai kewajiban-kewajiban yang sama.
4.
Hak-hak golongan mayoritas maupun golongan minoritas mendapat perlindungan
yang baik.
5.
Diskusi lengkap mengenai setiap usul atau rencana yang disampaikan untuk
diputuskan merupakan suatu hak yang tidak dapat dipungkiri yang berlaku bagi
setiap ketetapan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perkumpulan.
Untuk pembatasan-pembatasannya, yaitu sebagai berikut:
a.
Suatu usul untuk mengadakan perdebatan terbuka menuntut dua pertiga suara,
dan
b.
Suatu usul untuk mengadakan perdebatan-perdebatan terbatas menuntut dua
pertiga suara anggota.
6.
Cara yang paling langsung untuk menyelesaikan atau mencapai suatu maksud
haruslah dituruti.
7.
Usul-usul atau mosi-mosi mempunyai urutan presedensi tertentu dan logis.
8.
Setiap anggota berhak untuk mengetahui masalah apa yang dihadapi oleh
kelompok itu setiap saat dan apa efeknya yang mungkin terjadi.
9.
Hanya satu masalah yang dapat dipertimbangkan dan dipecahkan pada satu
waktu.
10. Kekuasaan harus diserahkan hanya melalui proses-proses demokratis, yaitu
dengan suara mayoritas.
11. Ketua pimpinan haruslah menggunakan/menjalankan wewenangnya dengan
jujur,adil, wajar, bijaksana, dan dengan penuh rasa tanggung jawab.
12. Demi penerangan bagi seluruh anggota, dibuatlah catatan dari setiap
tindakan yang telah dilakukan. (Mulgrave, 1954 : 83).
Secara singkat, prosedur parlementer mempunyai dua maksud
utama, yaitu:
a.
Meninjau serta mengarahkan urusan atau usaha secara efesien secara tepat
guna, dan
b.
Melindungi hak-hak semua anggota. (Albret [et al], 1961b: 174).
B. PROSEDUR PEMBUATAN
SUATU PERKUMPULAN
Semua organisasi dapat dibagi atas dua tipe, yaitu:
1.
Yang bersifat sementara atau temporer
2.
Yang bersifat tetap atau permanen
Suatu organisasi sementara mungkin
berlangsung selama satu atau beberapa pertemuan, bergantung pada lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya.
Organisasi tetap adalah suatu
organisasi yang dibentuk dengan suatu penghargaan agar dapat berfungsi dalam
jangka waktu yang panjang, atau barangkali dalam waktu yang tidak terbatas.
Pada pendirian pada salah satu tipe
organisasi hendaklah bertemu dalam satu komite atau kelom pok kecil untuk
mendiskusikan masalah-masalah pendahuluan yang penting, misalnya:
1.
Maksud dan tujuan organisasi yang diusulkan;
2.
Cara-cara mencapai maksud dan tujuan;
3.
Rencana-rencana keuangan;
4.
Sifat dan jenis-jenis keanggotaan;
5.
Ke bijaksanaan-kebijaksanaan;
6.
Afiliasi-afiliasi atau pertalian-pertaliannya dengan organisasi yang lebih
besar atau organisasi nasional. (Mulgrave, 1954 :84).
C. ANGGARAN DASAR DAN
ANGGARAN RUMAH TANGGA
Suatu anggaran dasar atau konstituasi paling sedikit
terdiri atas tujuh ketetapan dasar, yang harus dinyatakan secara singkat dan
jelas dalam pasal-pasal yang terpisah ketujuh ketetapan dasar tersebut, yaitu :
1.
Nama organisasi,
2.
Tujuan dan kekuasaan organisasi,
3.
Kualifikasi dan keanggotaan,
4.
Pengurus organisasi beserta tugas-tugasnya dan jangka waktu kepengurusan
mereka,
5.
Dewan pimpinan atau dewan pengawas atau komite ekskutif, dan cara
pemilihan,
6.
Waktu bagi pertemuan-pertemuan dan cara mengadakan pertemuan-pertemuan
khusus atau rapat di luar biasa, serta
7.
Cara mengubah atau metode mengamademenkan anggaran dasar.
Anggaran rumah tangga memuat segala uraian terperinci dibutuhkan untuk
melaksanakan ketetapan-ketetapan anggaran dasar. Biasanya pada anggaran rumah
tangga, tercakup hal-hal berikut:
a.
Jenis-jenis keanggotaan,
b.
Syarat-syarat bagi keanggotaan,
c.
Cara-cara penerimaan keanggotaan,
d.
Iuran-iuran,
e.
Hak-hak dan kewajiban para pengurus,
f.
Hak-hak dan kewajiban komite-komite,
g.
Cara pemilihan para pengurus dan komite,
h.
Ketentuan-ketentuan mengadakan serta memimpin rapat-rapat,
i.
Wewenang parlementer,
j.
Jumlah yang menentukan tercapainya suatu kuorum, serta
k.
Prosedur untuk mengamademenkan atau mengubah anggaran rumah tangga.
(Mulgrave, 1954 : 85 ) yang disarikannya pula dari Sturgis, 1950).
D. TUGAS PENGURUS
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa keberhasilan suatu
perkumpulan atau organisasi, sebagian bergantung kepada kemampuan dan
penampilan yang sungguh-sungguh daripada pengurus yang terpilih. Selain itu,
mempaunyai tanggung jawab khusus memimpin serta mengendalikan segala urusan
perkumpulan dengan cara yang adil, jujur, dan obyektif. Jumlah pengurus mungkin
berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan organisasi. Akan tetapi, dari tugas-tugas
dan tanggung jawab untuk mengendalikan perkumpulan ditangani oleh ketua (atau
presiden), wakil ketua, sekretaris, dan bendahara.
1.
Tugas Ketua
Tugas utama ketua perkumpulan adalah memelihara atau tata
tertib dalam pertemuan.
2.
Tugas Wakil Ketua
Apabila ketua berhalangan maka wakil ketua bertindak
selaku ketua. Wakil ketua seringkali mengetahui kelompok-kelompok penting dan
menjadi anggota ex-officio(menjadi anggota karena jabatannya) pada
kebanyakan komite.
3.
Tugas Sekretaris
Sekretaris adalah seorang pengurus yang bertugas membuat
catatan/laporan mengenai perkumpilan itu serta menyimpan catatan dan laporan
tersebut, kecuali yang merupakan wewenang pengurus lain (misalnya buku-buku
keuangan), secara lebih tugas sekretaris mencakup:
a.
Membuat serta menyimpan daftar nama para anggota dan membuat daftar hadir
kalu perlu;
b.
Memberitahukan secara resmi segala sesuatu kepada pengurus, komite, dan
mendelegasikan pengangkatan mereka;
c.
Melengkapi para delegasi dengan surat-surat kepercayaan atau mandat; dan
d.
Bersama-sama dengan ketua menandatangani segala urusan mengenai
perbendaharaan yang dikuasakan oleh perkumpulan, kalau tidak ada
kekecualian-kekecualian khusus tertera dalam anggaran rumah tangga.
4.
Tugas bendahara
Bendahara menguasai keuangan perkumpulan. Dia mengumpulkan
uang iuran, menulis kuitansi-kuitansi, membayar tagihan atau rekening, dan
membuat laporan-laporan terperinci pada waktu tertentu atau mengenai permintaan
atau permohonan pada sesuatu pertemuan. (Mulgrave, 1954 : 86-7).
E. MOSI DAN USUL
Mosi adalah pernyataan resmi terhadap suatu proposal
(saran, anjuran, usul) atau pernyataan terhadap pertimbangan dan tindakan oleh
suatu kelompok. Mosi mengemukakan suatu butir urusan untuk mendapatkan
keputusan atau ketegasan. Mosi dapat juga diacukan/dianggap sebagi suatu
“pertanyaa” atau “masalah”.
1. Pengajuan Mosi
Dalam suatu pertemuan yang dilaksanakan dengan prosedur
parlementer, tidak ada diskusi sebelum seseorang mengajukan mosi. Memang
sepintas kilas tampaknya mudah membuat suatu mosi, tetapi tidaklah mudah
membuat suatu mosi yang baik.
Pengajuan
suatu mosi menuntut urutan langkah-langkah, sebagi berikut:
a.
Anggota yang ingin mengajukan suatu mosi berdiri dan menghadap kepada
ketua dengan berkata “Saudara (Bapak/Ibu) Ketua”.
b.
Ketua mempersilahkan anggota tersebut dengan jalan menyebutkan kembali
namanya “Saudara Anu, silakan…”.
c.
Anggota tersebut mengajukan mosi dengan mengatakan “Saudara Ketua, saya
mengusulkan agar…”.
d.
Anggota yang lain mendukung mosi tersebut dengan menyatakan , “saya
menyokong mosi tersebut”. (semua mosi haruslah didukung sebelum didiskusikan
atau diputuskan dengan memberikan suara untuk itu).
e.
Setelah mosi didukung
2. Beberapa petunjuk
Bagi Pengajuan Mendiskusikan Mosi
3. Cara-Cara
Memutuskan Sesuatu Mosi
4. Jenis-Jenis Mosi

Follow Us
Stay updated via social channels